Sejak bulan Maret lalu kita beraktifitas dirumah saja karena pandemi COVIG 19 melanda, lalu bagaimana proses belajar mengajar yang seharusnya berlangsung disekolah? Apakah proses belajar dirumah saja yang dicanangkan pemerintah berjalan effektif? Bagaimana dengan siswa yang berada dipelosok yang jauh dari jaringan internet? Apakah guru mendadak dan terpaksa mengajar menggunakan perangkat teknologi informatika? Bagai mana proses orang tua melakukan bimbingan terhadap anak-anak mereka? Banyak pertanyaan yang timbul dari Belajar Dirumah ini di kalangan masyarakat.
Karena kejadian pandemi covig 19 ini mengharuskan guru untuk mengajar dari rumah dan siswa belajar dirumah. Pada prinsipnya proses belajar mengajar harus tetap berjalan namun metodenya saja yang berubah, Guru mempersiapakan dan menerapakan bagaimana menyampaikan materi dan mengadakan penilaian jarak jauh. Guru yang bijaksana akan menerima tantangan ini dan berusaha yang terbaik dengan menyesuaikan kondisi guru itu sendiri dan keadaan mayoritas siswa. Guru tak perlu memaksakan diri dengan hal yang canggih -cangih mengunakan vidio conference, atau membuat soal penilaian yang menggunakan google form, quiz atau program lain bila tak memungkinkan.
Secara umum terdapat dua metode Belajar di Rumah yaitu Sinkronik dan Ansinkronik. Metode Sinkronik adalah metode yang menggunakan peralatan teknologi informatika Metode ini mengadirkan siswa dan guru bertatap muka dengan vidio conference dengan jadwal yang telah ditentukan, atau disebut juga tatap muka secara virtual. Contoh, Hari Senin pukul 8.00 siswa mengisi daftar hadir di grup Whats App, kemudian guru memberi materi untuk dipelajari selama 15 menit, lalu siswa diizinkan bertanya tentang materi tersebut di grup.
Metode yang kedua adalah metode Ansinkronik yaitu Interaksi antra guru dan murid tidak secara langsung atau tertunda. Guru dapat memberi materi atau tugas kapan saja, murid tidak harus mengerjakannya diwaktu yang sama.Contohnya: Siswa diberikan materi melalui Google Class Room atau Kelas Maya Rumah Belajar.Murid diberi tenggang waktu selama 1 minggu untuk mengerjakan dan mengumpulkan tugas. ( Websis Media)
Positif dan negatif dalam setiap metoda pembelajaran pasti ada, yang dapat guru lakukan adalah meminimal kan sudut negatifnya.Di lapangan banyak ditemukan guru mengajar dengan metode Ansinkronik dikarenakan kondisi guru dan siswa yang ada. Ditemukan juga guru yang memberi tugas saja tanpa evaluasi, Ada yang memberi evaluasi saja, Ada guru menugaskan siswa meringkas buku text mengerjakan semua evaluasi pada buku text tersebut untuk satu semester. Padahal siswa juga mempunyai tugas lain-lain lagi dari guru mapel yang berbeda. Metode ini memungkinkan tugas siswa dikerjakan oleh orang lain terutama dalam hal pengerjaan evaluasi atau peniaian.
Di lapangan dalam memberikan penilaian kebanyakan guru memberikan soal-soall LOTS ( Lower Order Thinking Skill), Guru umumnya belum terbiasa dengan membuat soal yaitu soal HOTS ( Higher Order Thinking Skill). Soal-soal LOTS jawabanya dapat ditemukan di Google karena hanya berupa hapalan. Sementara soal HOTs tidak dapat di cari di Google siswa harus mampu tidak hanya menghapal tapi juga menganalisanya Dengan soal HOTS siswa belajar berfikir lebih jauh dan mengmengkritisi sesuatu. Berikut adalah tabel Taksanomi Bloom yaitu hiraki proses berfikir kognitif.. Leverl yang terendah adalah remember yang prosesnya hanya hapalan, dilanjutkan dengan undertand atau memahami, lalu apply atau menerpakan dan pada tahap berikutnya Analyze, menganalisa, evaluate,evaluasi dan yang tertinggi adalah create yaitu menciptakan. Ketiga tahapan terakhir merupakan proses berfikir dalam menjawab soal HOTS.
,