MENINGKATKAN KEMAMPUAN READING
SISWA DENGAN MODEL COOPERATIVE
LEARNING TIPE STAD DAN BERBASIS BLOG PADA SISWA KELAS X TKJ2 SMK NEGERI 3 KOTA BENGKULU
YulitaMinha, Guru SMK Negeri 3 Kota Bengkulu
ABSTRAK
Penelitian
ini dilatar belakangi oleh 1) Kemampuan reading pada siswa kelas X TKJ 2 di SMKN
3 Kota Bengkulu rendah, 2) Siswa kelas X TKJ di SMKN3 kota Bengkulu belum
pernah belajar menggunakan model STAD
dan mediablog, dan 3)
Waktu mengajar yang singkat sementara guru
harus mengejar target kurikulum. Penelitian ini bertujuan: 1) Mengetahui apakah
penggunaan model STAD dan media blog dapat meningkatkan kemampuan reading siswa,dan
2) Mengetahui apakah penggunaan model
STAD dan media blog guru cukup
effektif bagi guru maupun siswa untuk
meningkatkan kemampuan reading siswa.
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) dilakukan di SMK Negeri 3 Kota Bengkulu. Subjek Pada penelitian ini
adalah 30 orang terdiri dari 19 siswa
laki-laki dan 11 orang siswa perempuankelas X TKJ 2 di SMKN 3 Kota Bengkulu.
Data dikumpulkan melalui instrument tes yang berbentuk pilihan ganda.Pengujuan
hipotesis dilakukan dengan menggunakan rumus rata-rata dan Gain ternormalisasi.Hasil
penelitian menunjukkan pada siklus I siswa yang memperoleh rata-rata test I=
5,77 dengan ketuntasan 60% (belum tuntas) dan nilai rata-rata test II = 8,73
dengan ketuntasan 83,33% (tuntas) dan nilai Gain ternormalisasi menunjukkan
angka 0,701 dimana nilai 0,701 ini ( >0,7) yang berarti tergolong tinggi Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa 1) PenggunaanMetodeCooperative LearningtipeSTADdan
media Blog dapatmeningkatkan kemampuan reading siswa di kelas X
TKJ2 di SMKNegeri3kota Bengkulu. Hal ini terlihat dari peningkatannilaihasil
evaluasireadingdarisikluske 1
kesiklus 2. Nilai rata-rata siswapadasikluspertamaadalah 5,77danpadasikluskeduameningkatmenjadi
8,73 dengan peningkatan
sebesar 2,97 dan 2) MetodeCooperative
Learning tipe STAD dan media Blog
sangat efektif untuk meningkatkan kemampuan reading. Hal ini terlihat dari
nilai Gain ternormalisasi 0,701 yang tergolong tinggi.
Dalam era globalisasi dimana terjadi kerjasama antar negara,
seperti AFTA (
ASEAN Free Trade Area ) yang secara umum dikenal dengan sebutan pasar bebas
asia dan MEA ( Masyarakat Ekonomi ASEAN) yang terintegrasi dengan negara-negara
yang ada di ASEAN. Dengan
terbentuknya AFTA,memungkinkan pekerja
atau pengusaha berbisnis di negara lain dalam hal ini ASEAN. Demi kelancaran
pekerjaan dan bisnis kemampuan berbahasa Inggris juga sangat penting.
Tamatan SMK(Sekolah Menegah
Kejuruan) merupakan siswa yang diharapkan akan mempunyai keahlian dibidangnya
sehingga dapat menjadi pekerja atau berwirausaha dibidang keahliannya. Peluang
usaha bagi tamatan SMK semakin lebar dengan adanya AFTA dan MEA. Untuk itu berkemampuan berbahasa Inggris
sangat bermanfaat bagi mereka guna dapat bersaing di dunia kerja baik di
Indonesia maupun di luar negeri. Ketentuan keahlian siswa tersebut berdasarkan
Standar Badan Nasional Pendidikan 2006, mata pelajaran bahasa Inggris di
SMA/MA/SMKyang bertujuan agar siswa memiliki kemampuan mengembangkan kompetensi
berkomunikasi dalam bentuk lisan dan tulis untuk mencapai tingkat literasi functional.Salah
satu ruang lingkupnya adalah kemampuan berwacana, yakni kemampuan memahami
danmenghasilkan teks lisan dan tulis yang direalisasikan dalam empat keahlian
berbahasa yakni mendengarkan (listening), berbicara (speaking),
membaca (reading), dan menulis (writing) secara terpadu.
Namun pada kenyataannya kemampuan bahasa
Inggris terutama dalam keterampilan membaca (reading) siswa SMKNegeri 3 kota Bengkulu di kelas X TKJ 2 masih
lemah dan masih sangat perlu ditingkatkan. Hal dapat ini dilihat dari data yang didapatkan dari
hasil observasi peneliti di kelas tersebut pada semester satu TA 2017/2018
nilai reading peserta didik di kelas
ini baru 60% mencapai nilai KKM (Ketuntasan Nilai Minimum).Selain itu jam
mengajar disekolah hanya 2 x 45 menit dalam seminggu, karena itu diperlukan
usaha untuk meningkatkan kemampuan reading
siswa di kelas ini untuk membuat siswa belajar di luar jam pelajaran wajib
di sekolah.
Menurut Anderson (1972:214), ada tujuh macam
tujuan dari kegiatan membaca, yaitu (1) reading
for details or fact atau membaca untuk mengungkap fakta, (2) reading for main ideas atau membaca
untuk mendapatkan ide utama, (3) reading
for sequence or organization atau untuk mengetahui urutan dan organisasi
karangan, (4) reading for inference
atau membaca untuk menyimpulkan, (5)
reading to classify atau membaca untuk mengklasifikasikan, (6) reading to evaluate atau membaca untuk
mengevaluasi dan (7) reading to compare
or contrast atau membaca untuk membandingkan atau mempertentangkan. Dalam
penelitian ini peneliti akan memfokuskan pada tujuan; mengungkap fakta,
mendapatkan ide utama, dan menyimpukan saja sesuai dengan tuntutan yang ada
dalam silabus bahasa Inggris untuk kelas X SMK pada kurikulum 2013.
Dalam penelitian ini penulis dalam rangka meningkatkan
kemapuan reading siswa kelas X TKJ 2 ini menggunakan media Blog dan model
pengajaran Cooperatif Learning tipe STAD. Pemilihan media blog ini dikarenakan
100 persen siswa mempunya laptop, dan dapat mengakses internet di sekolah
maupun di rumah. Kurikulum 2013 yang sudah diterapkan di seluruh kelas di SMKN
3 kota Bengkulu menuntut siswa dan guru menggunakan waktu pada proses belajar
dengan effektif. Jam belajar yang tadinya 4 jam dalam seminggu telah dikurangi
menjadi 2 jam perminggu. Hal ini membuat guru harus menggunakan waktu yang
sedikit ini sebijak mungkin agar tujuan kurikulum terpenuhi.
Blog
ialah bentuk aplikasi WEB yang
menyerupai tulisan-tulisan (yang dimuat sebagai posting pada sebuah halaman web
umum, blog dapat diakses melalui
internet sesuai dengan topik yang digunakan oleh pembuat blog. Orang yang
membuat blog dan memanfaatkannya disebut Bloger.Karena membuat blog tidak
dipungut bayaran sehingga siapapun yang dapat memanfaatkannya sesuai kebutuhan
dan tujuan Bloger itu sendiri.. (http://id.wikipedia.org/wiki/Blog). Didunia pendidikan blog banyak digunakan, Para praktisi dunia pendidikan seperti
dosen, guru, mahasiswa, bahkan siswa mereka membuat blog sesuai kebutuhan dan tujuan
yang berbeda-beda baik dengan tujuan komersial maupun tujuan berbagi
pengetahuan atau sekadar untuk mengekspresikan diri dalam suatu karya.
Media yang biasa digunakan para pendidik sekarang ini pada umumnya
menggunakan media cetak (seperti buku, diktat, modul majalah, Koran dan sebagainya) dan media
video dan visual misalnya (Televisi, radio, .kaset, slide dan lain-lainnya), sementara media elektronik seperti
internet, komputer masih belum intensif dan masih jarang digunakan. Penggunaan Blog sebagai
media pembelajaran diharapkan dapat menambah gairah belajar dan mengubah cara
belajar siswa dan meningkatkan hasil belajar.
Selain
media dalam proses belajar mengajar diperlukan juga strategi pembelajaran,
untuk kelas yang heterogen dan besar seperti kelas X TKJ 2 ini strategi yang baik untuk dipakai adalah Cooperative Learning tipe STAD (Student Team AchievementDivision) yang berkarakter bekerja secara
koperatif dalam sebuah tim, dimana didalam tim tersebut haruslah heterogen,
yaitu memiliki kemampuan, jenis kelamin, dan tingkat sosial yang berbeda, Hasil penelitian menunjukan
bahwa Cooperative Learning memberikan
pengalaman dan pencapaian yang baik dibandingkan dengan belajar secara individu
bagi seluruh siswa (Steven dan Slavin, 1995).
Ada beberapa penelitihan yang telah dilakukan sebelumnya yang
menggunakan blog sebagai strategi atau media antaranya: 1) Ahmad Zamri Mansor,(2010) Reflective
Learning Journal Using, Blog, Centre for General Studies, Universiti Kebangsaan Malaysia, 43600 UKM Bangi,
Malaysia, 1877–0428 © 2011 Published by Elsevier Ltd. 2) Maryam Nur Azizah R, Dr. Enjang Ali Nurdin
M.Kom, Dr.WawanSetiawan,M.Kom Effektifitas Penggunaan Metode Pembelajaran
Students centered Learning Berbasis Classroom Blogging untukMeningkatkan Hasil
Belajar Siswa. 3) Abbas Ali Zarei ,The Effecs of STAD and CIRC on L2 Reading Comprehension and Vocabulary
Learning. Imam Khomeini International University, Qazvin, Iran
Dari hasil penelitian tersebut ketiganya menunjukan hasil yang
positif dalam upaya meningkatkan prestasi siswa.Dari permasalahan diatas
penulis telah mengadakan penelitian dengan judul Upaya Peningkatan Kemampuan Reading dengan Model Cooperative Learning
Tipe STAD dan Media Blog di kelas X TKJ2
di SMKN 3 Kota Bengkulu.
B. Metode Penelitian
Jenis
penelitian ini adalah penelitian
tindakan yang berbentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dua siklus. Penelitian
ini diarahkan untuk memecahkan masalah atau perbaikan yang berhubungan dengan
masalah-masalah dikelas. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yang mengacu
pada model kemmis dan Mc Taggar (Depdiknas, 2005) yaitu rencana, tindakan,
observasi dan refleksi. Penelitian ini
dilakukan selama tiga bulan mulai bulan Febuari
- April 2018.
Tempat
penelitian ini adalah kelas X TKJ 2 SMK Negeri 3 Kota Bengkulu yang berlokasi
di Jl Jati Sawah Lebar Bengkulu tahun pelajaran 2017/2018.Subjek penelitian ini
adalah siswa Kelas X TKJ 2 SMK Negeri 3 Kota Bengkulu yang berjumlah 37 orang
yang terdiri atas 24 siswa dan 13 siswi. Alasan adanya penelitian di Kelas X
TKJ2 pertama karena di kelas ini belum pernah diadakan penelitian sejenis sementara
100 persen siswa memiliki laptop dan
90 persen siswa memiliki akses ke internet
dengan menggunakan modem dan 5 persen memiliki akses wifi dirumah. Kedua, kemampuanreading
dikelas ini masih sangat perlu ditingkatkan. Ketiga, guru yang mengajar dikelas
ini belum pernah menggunakan media blog
dengan akses internet.
Proses pelaksanaan pada penelitian ini dialakukandalam dua siklus yang tiap siklusnya mempunyai
empat tahapan yaitu perencanaan, tindakan, tahap observasi dan tahap refleksi.
1. Siklus 1
a.
Perencanaan
Peneliti
dalam membuat perencanaan menyiapkan sebagai berikut: 1) membuat rancangan
pengajaran reading dengan menggunakan
model Cooperative Learning tipe STAD
dengan media Blog, 2)menyiapkan materireading tipe narrative yang sesuai dengan materi ajar pada silabus siswa kelas X
di SMKN 3 Kota Bengkulu, 3) membuat lembar kerja siswa untuk berdiskusi, 4) membuat
lembar observasi bagi guru sebagai rekan pengamat (observer) dan 5) lembar
wawancara,
Pada rencana
Pembelajaran kegiatan akan dilakukan tiga tahap yaitu:
a)Sebelum
proses belajar mengajar di dalam kelas yakni di luar sekolah artinya siswa
sendiri atau berkelompok dapat membaca
atau memahami materi reading yang
akan diajarkan dikelas di blog yang
telah disiapkan oleh guru. Siswa
bisa mengakses dan membacanya di
rumah, di warnet atau di sekolah namun sebelum proses pembelajaran di kelas
berlangsung. Karena menggunakan akses internet maka siswa juga dapat
menggunakan fasilitas penterjemah yang ada di internet, sehingga hal ini
memudahkan siswa dibandikan siswa harus membolak balik kamus.
b)Proses
inti, dimana guru dan siswa akan melaksanakan proses belajar dan mengajar yang
telah dirancang dalam RPP (Rencana Proses Pembelajaran) oleh guru di dalam
kelas.
b. Tahap Tindakan Pelaksanaan dan Observasi
Tahap
ini adalah tahap dimana guru melaksanakan proses pengajaran sesuai dengan
rancangan pembelajaran yang sudah dibuat sekaligus pengawas (observer) yang
merupakan teman sejawat dari guru mengawasi aktivitas guru dan siswa selama
proses pembelajaran dikelas dan mengisi
daftar observasi yang sudah disediakan dengan sebenar-benarnya.
c. Tahap Refleksi
Tahap
ini adalah tahap dimana peneliti menelaah hasil observasi, hasil wawancara dan
lembar observasi dari hasil seluruh proses pembelajaran dan menjadikan penemuan
dan masukan dari observer sebagai acuan pembuatan rancangan pengajaran yang
lebih baik pada siklus berikutnya.
2. Siklus 2
Siklus kedua ini prosesnya sama dengan siklus
pertama yaitu mempunyai tahapan: perencanaan, tahap tindakan/pelaksanaan dan
observasi dan tahap refleksi, namun pada siklus ini pada tahap perencanaannya
merupakan hasil dari observasi, wawancara pada siklus pertama sehingga tentunya
ada perubahan-perubahan yang siknifikan menuju kesempurnaan hal ini diharapkanproses
pembelajaran akan lebih baik dan hasil tes akan meningkat.
a.
Teknik Analisis Data
Untuk mengetahui ada atau tidaknya peningkatan
kemampuan reading siswa dalam
pembelajaran Bahasa Inggris dengan menggunakan model Coperative Learning, dapat dihitung dengan rumus :
Peningkatan ketuntasan belajar
=Ketuntasansiklus 2 – Ketuntasan siklus 1
Peningkatan nilai = Mean skor postes-mean skor pretes
Selanjutnya untuk mengetahui ada atau tidaknya
efektivitas MetodeCooperative Learning tipe STAD dan media Blog untuk meningkatkan
kemampuan reading. Digunakan rumus Gain ternormalisasi.
Rumus Gain Ternormalisasi (normalized gain) menurut Meltzer
(2002) sebagai berikut:
Gain Ternormalisasi (g)
= skor
post test – skor pre test
skor ideal – skor pre tes
C. Hasil Penelitian dan
Pembahasan
1.Hasil Penelitian
Hasil penelitian berupa rekapitulasi
kemampuan reading siswa berupa nilai test pada materi Narative Text.
Tabel
4.1. Rekapitulasi Kemampuan Reading Siswa Siklus I & Siklus II
|
No |
Rentang
Nilai |
Test |
Test
1 |
Test
II |
|
|
|
Awal |
(Siklus
1) |
(Siklus
II) |
|
1 |
Nilai
<7 |
19 |
12 |
5 |
|
2 |
Nilai
>7 |
11 |
18 |
25 |
|
3 |
Nilai
Rata-rata |
4,70 |
5.77 |
8.73 |
|
4 |
Ketuntasan
(%) |
36,67 |
60 |
83.33 |
Sumber : Data Diolah
Siklus 1
Siklus
pertama dilaksanakan dalam 2 kali tatap muka (4x45 menit) dengan materi Narative Text dengan judul “My
Shopping Norte’s Nightmare
yang meliputi:
1.
Rencana
Pembelajaran (Perencanaan)
Padar rencana
Pembelajaran (perencanaan) kegiatan dilakukan lima
tahap yaitu:
a.
Sebelum proses belajar mengajar di dalam
kelas yakni di luar sekolah artinya siswa sendiri atau berkelompok dapat membaca atau memahami materireading yang akan diajarkan dikelas di
blog yang telah disiapkan oleh guru. Siswa
bisa mengakses dan membacanya di
rumah, di warnet atau di sekolah namun sebelum proses pembelajaran di kelas
berlangsung.
b.
Menyusun Instrumen pembelajaran antara
lain : Proses inti, dimana guru dan
siswa akan melaksanakan proses belajar dan mengajar yang telah dirancang dalam
RPP (Rencana Proses Pembelajaran) dengan
materi pembelajaran tentang Narative Text
dengan judul “My Shopping Norte’s Nightmare“
yang sudah disediakan pada blog “ www.blogspot.momita09.com”Soal kuis
dan lembar kerja siswa (LKS).
c.
Menyiapkan lembar observasi siswa (lembar
pengamatan aktivitas siswa) dan lembar observasi guru (lembar pengamatan
aktivitas guru).
d.
Menyiapkan media pembelajaran yang
diperlukan berupa laptop, LCD dan modem.
e.
Menyiapkan observer sebagai guru
kolaboran, dan skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan.
2.
Pelaksanaan Pembelajaran (pelaksanaan tindakan)
Pelaksanaan pembelajaran (pelaksanan tindakan) diadakan di kelas XTKJ2 sebagai berikut :
1.
Langkah awal dalam pelaksaan tindakan
adalah dilaksanakannya pre test untuk mengetahui kemampuan awal tentang Narative Text. Siswa diberitahukan dan
dihimbau untuk membaca dan mempelajari materi tersebut yang disediakan didalam
Blog yang bisa diakses dari rumah, sekolah atau di warung internet di sekolah
atau dimana saja dan juga kapan saja siswa mempunyai waktu untuk
mempelajarinya.
2.
Guru melaksanakan pembelajaran sesuai
dengan skrenario pembelajaran yang telah direncanakan yaitu penerapan model
pembelajaran Cooperative Learning
tipe STAD.
3.
Siswa dibagi menjadi 6 kelompok dengan
nggota masing-asing kelompok berjumlah 4-5 siswa. Pembagian kelompok dilakukan
secara acak yang terdiri dari angotanya yang heterogen ( terdiri dari siswa
laki-laki dan perempuan, dengan kemampuan bahasa Inggris yang berbeda ).
4.
Guru mengawali pengetahuan siswa dengan
pengetahuan mengenai ciri-ciri narrative
text, dilanjutkan dengan memberikan tugas permasalahan tentang text
narrative dalam bentuk lembar kerja siswa dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan
berkenaan dengan teks narrative pendek
dengan judul My shopping Norte’s night
mare dengan memahami ciri-ciri narrative text. Siswa mendiskusikan permasalahan
(tugas) tersebut dalam kelompok dengan mengacu pada buku-buku referensi dan
kamus.
5.
Siswa mendiskusikan tugas dalam kelompok
masing-masing, guru mengawasi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin
timbul dari setiap kelompok serta memberikan bimbingan bagi siswa/kelompok yang
membutuhkan.
6.
Selama proses pembelajaran berlangsung
aktivitas siswa diamati oleh guru observer (kolaboran).
7.
Guru memberikan kepada siswa beberapa
pertanyaan (quiz) berkenaan dengan apa yang sudah dikerjakan pada Lembar Kerja
Siswa. Quiz ini diberikan secara
lisan setiap siswa diperkenankan untuk menjawab.
8.
Tahap penutup, guru dan siswa bersama-sama
menyimpulkan materi pelajaran pada hari itu mengenai narrative text, dan selanjutnya guru memberi pekerjaan rumah (PR)
yaitu membaca dan menterjemahkan materi narrative text yang ditentukan
oleh guru diblog.
3.Observasi
a. Hasil Observasi Terhadap Siswa
Observasi
ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas siswa dalam pembelajaran.Dilakukan
pengamatan oleh guru kolaboran pada masing-masing siswa dengan menggunakan
lembar observasi siswa.
Dari hasil pengamatan dan hasil diskusi dengan dua
orang guru teman sejawat (guru kolaboran), pelaksanaan penelitian menunjukan
beberapa hal yang perlu diperbaiki.
Kesadaran siswa
untuk membaca materi ajar di blog guru yang sebelum proses pembelajaran didalam
kelas belum tinggi hal ini diketahui dari hasil wawancara Kurangnya kesadaran siswa untuk membaca atau
mengakses internet ini juga dikarenakan belum terbiasanya siswa untuk belajar
melalui blog atau internet.
Hasil kerja
kelompok sudah cukup baik namun perlu ditingkatkan ada sedikit masalah
dalam mengakses internet ke blog guru
dimana materi narrative text tersedia didalam blog. Hal ini dikarenakan siknal
internet dari telkomsel sedikit lambat, sehingga tidak semua siswa dapat
mengakses materi dari blog. Namun karena setiap kelompok ada yang menggunakan
modem, maka setiap kelompok dapat melaksanakan
tugas sesuai rencana.
b. Hasil Observasi terhadap Guru
Hasil observasi terhadap guru pada siklus
I ini terlihat guru telah melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan
skenario pembelajaran yang telah direncanakan. Akan tetapi pada siklus pertama
ini masih perlu penambahan hal-hal sebagai berikut :
a.
Guru perlu
lebih meningkatkan dalam memotivasi siswa dalam mempelajari narrative text.
b.Guru
perlu mengantisipasi kemungkinan bila
terjadi kegagalan dalam mengakses materi ajar didalam blog misalnya: mati lampu, akses ke internet lemah dan
lain-lain sehingga proses pembelajaran tidak terhambat dan tetap dapat
dijalankan.
c.
Guru perlu lebih memotivasi siswa agar
dapat bekerja kelompok dengan lebih baik dengan memberi pemahaman akan pentingnya bekerjasama
juga memberi
penugasan pada setiap anggota kelompok.
d.Guru perlu
memberi penghargaan kepada setiap kelompok tidak hanya kepada kelompok yang
berkerja paling baik saja, tetapi juga memberi
penghargaan pada kelompok yang lain yang telah belajar dengan semangat.
c.
Refleksi
Dari
hasil observasi dan pengumpulan data diperoleh nilai kuis I rata-rata 5,77 dengan
ketuntasan 60% artinya belum tuntas.
Selanjutnya,
dapat dilihat secara keseluruhan kelemahan-kelemahan yang terdapat
pada pelaksanaan pada siklus pertama ini
adalah sebagai berikut :
1.
Guru menyadari bahwa siswa masih perlu dimotivasi untuk membaca dan membiasakan
diri membaca materi ajar di blog yang sudah disediakan gurusebelum belajar di kelas.
2.
Guru menyadari bahwa siswa belum terbiasa
belajar dengan menggunakan Cooperative
Learning Type STAD .Sehingga proses belajar berkelompok belum dilaksanakan
dengan maksimal. Siswa masih perlu dibimbing dan dimotivasi agar dapat
berkontribusi dan aktif dalam kerja kelompok sehingga setiap siswa dapat aktif
dan nyaman bekerja kelompok.
3.
Guru menyadari belum mengantisipasi
kemungkinan adanya gangguan sinyal internet yang dapat menganggu kelancaran
proses pembelajaran.
4.
Guru menyadari bahwa tugas siswa pada
Lembar Kerja Siswa belum dilengkapi dengan kata (synonym dan antonym )
untuk menambah pengetahuan kosa kata yang berhubungan dengan teks narrative yang
dibahas dan juga beberapa soal yang berkaitan
yang berhubungan dengan teks bacaan perlu ditambah dengan tugas mencari
persamaaan dan lawan kata.
Dari
uraian hasil pelaksanaan penelitian siklus pertama diatas, maka disarankan
untuk memperbaiki dan meningkatkan hasil evaluasi pada siklus ke dua yaitu sebagai berikut :
1.
Guru perlu lebih memotivasi siswa untuk membaca materi ajar di blog guru sebelum belajar di kelas.
2.
Guru perlu lebih memberikan kesempatan
kepada siswa lebih lama untuk menanyakan hal-hal yang belum dimengerti dan
memberi kesempatan bagi siswa untuk menebak definisi materi sendiri.
3.
Guru perlu memberikan waktu yang lebih
lama bagi setiap kelompok untuk berdiskusi dan mencatat hasil diskusi.
4.
Guru perlu mengantisipasi kemungkinan
terjadinya kesalahan teknis khususnya berkenaan dengan signal untuk mengakses
ke internet, sehingga semaksimal mungkin dan sebanyak mungkin siswa dapat
mengakses blog guru dengan internet. Hal ini dengan menghimbau setiap siswa
membawa modem agar sebanyak mungkin siswa dapat mengakses internet. Selain itu
guru juga menyediakan Lembar Kerja Siswa yang sudah dicetak sebagai antisipasi.
Siklus II
Siklus
pertama dilaksanakan dalam 2 kali tatap muka (4x45 menit) dengan materi narative Text 2yang
meliputi :
a.
Rencana Pembelajaran
(Perencanaan)
Dari hasil pengamatan dan hasil diskusi
dengan rekan sejawat (obsever) pada siklus pertama, peneliti merangkum
masukan-masukan dan rekomendasi tersebut
dalam rencana pelaksanaan pembelajaran di siklus ke 2.
Pada tahap
pra pengajaran dikelas, Guru mengingatkan
dan menekankan siswa untuk membaca dan mempelajari narative text2 di blog yang telah disediakan dan bisa mengaksesnya
dimana saja, baik dari rumah, sekolah ataupun melalui handphone dan kapansaja sebelum jam pelajaran bahasa Inggris di
kelas selanjutnya dilakukan tahapan sebagai berikut :
1.
Siklus kedua ini direncanakan dua kali
tatap muka (4x45 menit).
2.
Menyusun skenario pembelajaran: skenario
RPP, soal-soal kuis dan lembar kerja siswa.
3.
Menyiapkan lembar observasi kinerja guru,
lembar observasi siswa dan lembar wawancara siswa.
4.
Menyiapkan media pembelajaran yang
dibutuhkan yaitu Laptop, LCD dan Modem.
5.
Menyamakan persepsi observer (kolaboran)
terhadap lembar observasi kinerja guru, lembar observasi siswa dan skenarip
pembelajaran yang akan dilaksanakan.
b.
Pelaksanaan Pembelajaran ( PelaksanaanTindakan)
1.
Guru melaksanakan sesuai dengan skenario
RPP.
2.
Guru membagi siswa dalam 6 kelompok dengan
anggota masing-masing kelompok 4-5 orang siswa. Proses pengelompokan diadakan
perubahan yaitu yang kurang dapat bekerja sama dengan baik di siklus pertama.
Guru juga mengingatkan siswa bahwa perlunya sikap bekerjasama dalam kelompok,
bertoleransi, aktif, saling membantu dan tidak egois merupakan sikap yang terpuji
dan perlu dikembangkan. Sehingga
diharapkan, kerja kelompok ini akan
lebih bersemangat dan dapat bekerjasama lebih baik dari siklus ke 1 (pertama).
3.
Guru pada siklus ke dua ini akan
memberikan waktu yang cukup bagi siswa yang bertanya, baik pada saat setelah
presentasi materi maupun pada saat diskusi kelompok berlangsung. Guru akan
menerapkan pendekatan yang lebih bersahabat dan proaktif membantu setiap kelompok yang nampak perlu bantuan walau
mereka tidak bertanya karena siswa belum terbiasa belajar dengan model Cooperative Learning model STAD.
4.
Lokasi belajar pada siklus kedua akan
diadakan di ruang praktik jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ) yang mempunyai
akses internet yang lebih baik dari kelas sebelumnya. Untuk mengantisifasi jaringan internet yang
mungkin ada gangguan siswa diminta membawa modem untuk mengakses internet.
Selanjutnya guru akan menyiapkan lembar kerja siswa (LKS) yang dicetak bagi
seluruh murid sebagai antisipasi bila masih ada kendala dengan internet siswa
tetap dapat mengerjakan lembar kerja siswa ( LKS) secara kelompok berkelompok.
5.
Guru menyampaikan tugas berupa
permasalahan yang harus dijawab siswa dalam bentuk lembar kerja siswa ( LKS)
dan print out materi ajar.
6.
Siswa mengakses blog guru
momita09.blogspot.com yang didalamnya terdapat materi analisis narrative text
dan selanjutnya siswa mendiskusikan
tugas sdalam kelompok masing-masing, guru memberkan bimbingan bagi
siswa/kelompok yang membutuhkan.
7.
Selama proses pembelajaran berlangsung
aktivitas siswa diamati oleh observer (kolaboran).
c. Observasi
1.Hasil
Observasi terhadap siswa
Observasi
ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas siswa dalam kegiatan diskusi,
dilakukan observasi (pengamatan) oleh guru kolaboran tentang memperhatikan
penjelasan dari guru, menebak definisi materi sendiri, memulai pelajaran dengan
model STAD dan media blog, mengikuti pelajaran dengan model STAD dan media
blog, belajar secara berkelompok maupun secara individu didalam kelas,
mendiskusikan materi yg diberikan dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh
guru
Hasil pengamatan atau observasi dari teman
sejawat (guru kolaboran) terhadap siswa ditemukan hal-hal sebagai berikut:
1)
Siswa memperhatikan penjelasan dari guru.
2)
Siswa dapat menebak definisi materi sendiri
3)
Suasana belajar mengajar sudah kondusif
dan masing-masing kelompok sudah dapat belajar berkelompok dengan lebih baik.
Walau akses ke internet masih lemah siswa dapat mengerjakan lembar kerja siswa
secara berkelompok dengan baik karena sudah ada lembar kerja siswa (LKS) yang
dicetak (print out) bagi masing-masing siswa.
4) Siswa
terlihat lebih bersemangta dan bersungguh-sungguh, kerjasama antar kelompok
tampak meningkat dan aktivitas pembelajaran lebih tampak demokratis dan tidak
lagi didominasi guru dan siswa yang pandai.
2. Hasil Observasi terhadap Guru
Hasil observasi terhadap guru pada sillus II ini
terlihat guru telah melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan skenario
pembelajaran yang telah direncanakan.Dan melaksanakan pembelajaran sesuai
dengan rencana waktu yang tersedia.
Setelah
pembelajaran pada siklus I dan siklus II dilaksanakan maka dihasilkan sebagai
berikut :Peningkatan ketuntasan belajar
=Ketuntasansiklus 2 – Ketuntasan siklus 1= 83,33 % - 60%
= 23,33%
Peningkatan
nilai = Mean skorpost test-mean skor pre
test
= 8,73 – 5,77
= 2,97
Efektivitas
pembelajaran :
Gain
Ternormalisasi (g)
= skor post test – skor pre test
skor maksimum – skor pre tes
= 8,73 – 5,77
10 – 5,77
= 2,96
4,23
= 0,701
(> 0,7 tergolong tinggi)
Terlihat
dari perhitungan diatas terlihat terjadi peningkatan nilai kemampuan reading
siswa yang awalnya rata-rata 5,77 menjadi 8,73
dengan peningkatan nilai sebesar 2,97. Selain itu pada perhitungan
terdahulu ketuntasan belajar mengalami peningkatan pada siklus I yang awalnya rata-rata
ketuntasan 60% menjadi 83,33% dengan peningkatan sebesar 23,33%. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan model STAD dan mediablog dapat meningkatkan kemampuan reading siswa.
Selanjutnya
terlihat pula pada nilai Gain ternormalisasi menunjukkan angka 0,701 dimana
nilai 0,701 ini ( >0,7) yang berarti tergolong tinggi. Hal ini menunjukkan
bahwa penggunaan model STAD dan mediablog
sangat efektif bagi siswa dan guru untuk
meningkatkan kemampuan reading siswa.
b.Pembahasan
Dari uraian hasil penelitian diatas peningkatan
kemapuan reading siswa paad pembelajaran Bahasa Inggris Cooperative Learning
Tipe STAD dan media Blog pada pra penelitian, siklus I dan Siklus II dapat
dilihat dari hasil analisis nilai evaluasi.
Grafik
1.ketuntasan Belajar Pada kuis

Pada tabel data diatas terlihat bahwa
persentase jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar sebesar 36,67% dan persentase
siswa yang tidak mencapai ketuntasan belajar sebesar 63,33%. Selanjutnya pada siklus 1 persentase
jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar sebesar 60% dan persentase siswa
yang tidak mencapai ketuntasan belajar sebesar
40%. Pada siklus II persentase jumlah siswa yang mencapai ketuntasan
belajar sebesar 83,33% dan persentase siswa yang tidak mencapai ketuntasan
belajar sebesar 16,67%.
Selanjutnya untuk nilai rata-rata kemampuan reading siswa mengalami peningkatan.
Pada pra penelitian nilai rata-rata kemampuan reading siswa sebesar 4,70 naik menjadi 5,77 pada siklus I dan pada
siklus II naik lagi menjadi 8,73. Lebih
jelasnya dapat dilihat pada grafik dibawah ini :
Grafik 2.
Nilai Rata-rata kuis

Dari uraian hasil penelitian tersebut di atas
peningkatan nilai rata-rata kemampuan reading
siswa pada pembelajaran Bahasa Inggris Kooperatif model STAD dan media Blog
pada par penelitian sebesar 4,77 Pada siklus I naik menjadi sebesar 5,77 dan pada siklus II naik lagi
menjadi sebesar 8,73 .Hal ini dapa
dipahami bahwa semain besar peranan siswa dalam suau pembelajaran, semakin
besar pula perolehan hasil belajanya dalam hal ini berupa kemampuan reading.
Keterlibatan siswa dalam pembelajaran secara aktif akan menciptakan kondisi
belajar yang menyenangkan dan lebih
bermakna. Sesuatu yang diperoleh dengan perasaan senang dan dengan
kebermaknaan, maka akan menguatkan kesan dalam memori peserta didik, sehingga
akan meningkatkan hasil belajar dalam hal ini kemampuan reading siswa.
Selanjutnya efektivitas metode Cooperative Learning tipe STAD dan media
Blog untuk meningkatkan kemampuan reading siswa tergolong tinggi.terlihat pada
nilai Gain ternormalisasi menunjukkan angka 0,701 dimana nilai 0,701 ini (
>0,7) yang berarti tergolong tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan
model STAD dan mediablog sangat
efektif bagi siswa dan guru untuk
meningkatkan kemampuan reading siswa.
Hasil penelitian ini kosisten dengan penelitian
oleh Maryam Nur Azizah,dkk (2010) yang menemukan bahwa metode pembelajaran student Centered learning berbasis classroom
blogging efektif meningkatkan hasil belajar siswa.
Dengan demikian terdapat kesesuaian antara
hipotesis tindakan yang diajukan dalam penelitian ini, bahwa Penggunaan MetodeCooperative Learning tipe STAD dan media Blog dapat meningkatkan
kemampuan reading siswa di kelas X TKJ2 di SMKNegeri 3 kota Bengkulu dan MetodeCooperative Learning tipe STAD dan media Blog sangat efektif untuk
meningkatkan kemampuan reading. Dalam penelitian tindakan kelas dengan
menerapkan metode CooperativeLearning tipe STAD dan media Blog, setidaknya
mengalami peningkatandari siklus I ke siklus II dan sangat efektif, masih
memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut dalam upaya peningkatan kemampuan
reading siswa.
C.
Simpulan dan Saran
1.Simpulan
Dari hasilpenelitian yang dijabarkandandiuraikanpadabab
I sampaibab IV dapatdisimpulkansebagaiberikut :
1. Penggunaan
MetodeCooperative Learning tipe STAD dan media Blog dapat meningkatkan
kemampuan reading siswa di kelas X TKJ2 di SMKNegeri 3 kota Bengkulu. Hal ini
terlihat dari peningkatan nilai hasilevaluasi reading dari siklus ke 1 ke siklus 2. Nilai rata-rata siswa pada
siklus pertama adalah 5,77 dan pada siklus kedua meningkat menjadi 8,73 dengan
peningkatan sebesar 2,97.
2. MetodeCooperative Learning tipe STAD
dan media Blog sangat efektif untuk meningkatkan kemampuan reading. Hal ini
terlihat dari nilai Gain ternormalisasi 0,701 yang tergolong tinggi.
Setelahpelaksanaanpenelitiantindakankelas
yang menggunakanmetodeCooperative
LearningtipeSTADdan media Blog
diharapkandalamrangkaturutmenyumbangpemikiran yang berkenaandenganpeningkatankemampuanmembaca
(reading) siswa dalam belajardisarankan:
Kepada Guru, agar menggunakan
metode pembelajaran Cooperative Learning
tipe STAD dengan media blog pada
pelajaran bahasa Inggris khususnya pada
materi membaca (reading).
Kepada siswa, sebaiknyamembiasakan diri membaca dan mempelajari materi yang
telah disediakan oleh guru sunguh-sunguh, membiasakan diri untuk belajar
mandiri dirumah dengan mengakses blog guru karena belajar disekolah yang hanya
2 x 45 menit tidaklah mencukupi untuk menguasai Bahasa Inggris. dan mengikuti
dengan aktif dan proaktif pada jalannya diskusi.
DAFTAR PUSTAKA
Abbas Ali Zarei ,The Effecs of STAD and
CIRC on L2 Reading Comprehension and
Vocabulary Learning. Imam Khomeini International University, Qazvin, Iran
Ahmad Zamri Mansor,2010.Reflective
Learning Journal Using, Blog, Centre for General Studies, Universiti Kebangsaan Malaysia, 43600 UKM Bangi,
Malaysia, 1877–0428 © 2011 Published by Elsevier Ltd.
Azizah,
Maryam, dkk,2010.
Efektifitas Penggunaan Metode Pembelajaran
Students Centered Learning
Berbasis Classroom Blogging untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa. Bandung
: Universitas Pendidikan Indonesia.